Breaking News

Bencana Pebuahan Senderan Belum Tuntas, Gelombang 'Hantam' Permukiman


Cybernewsindonesia.id l   
JEMBRANA - Selasa, (11/11/2025) Abrasi di pesisir Pantai Pebuahan, Desa Banyubiru, Jembrana, kini mencapai titik kritis. Gelombang tinggi yang terjadi beberapa hari terakhir, terutama saat fase bulan purnama dan tilem, memperparah kerusakan, bahkan memaksa warga meninggalkan rumah mereka yang kini telah menjadi puing-puing.

Penyebab utama kian parahnya bencana ini ternyata bukan semata karena faktor alam, melainkan dampak dari proyek pembangunan senderan pengaman pantai yang tidak tuntas. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, mengakui kondisi tersebut. 

Ia menjelaskan bahwa pembangunan senderan yang hanya dikerjakan sebagian justru membuat gelombang tinggi terkonsentrasi dan diarahkan tepat ke daratan yang belum memiliki perlindungan. 

"Dengan gelombang tinggi yang terjadi selama purnama, daratan dan rumah-rumah warga yang berada di sebelah barat senderan pengaman pantai semakin parah abrasinya. Kalau cuma dibangun senderan separuh memang dampaknya pada yang lain," ujar Agus.

Akibatnya, rumah-rumah warga yang sebelumnya masih bisa ditempati, kini rusak parah dan ditinggalkan penghuninya. BPBD Jembrana terus memantau daerah ini karena merupakan wilayah dengan dampak abrasi paling parah. Pemantauan rutin menunjukkan perubahan garis daratan yang signifikan setiap minggunya.

"Rumah-rumah warga bertahap semakin habis," tambah Agus, menggarisbawahi keganasan abrasi yang terus menggerogoti permukiman.

Pihak BPBD telah mengimbau masyarakat yang rumahnya berada di zona rawan abrasi untuk segera mengungsi. Meskipun sebagian warga sudah pindah, masih ada yang bertahan karena belum memiliki tempat tinggal baru. Warga juga diminta waspada terhadap intensitas hujan dan angin kencang yang meningkat belakangan ini.

(David)
©Copyright 2023 -cybernewsindonesia.id