Cybernewsindonesia.id - JEMBER // Pemerintah Kabupaten Jember kembali menyalurkan insentif bagi para tokoh pendidikan keagamaan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Program yang dikelola melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdakab Jember ini ditujukan untuk para guru ngaji, modin, serta guru agama nonmuslim sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian mereka dalam membina kehidupan spiritual masyarakat.
Kepala Bagian Kesra Setdakab Jember, Nurul Hafid Yasin, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari program pemerintah daerah dalam Anggaran Tahun 2026.
Ia menegaskan bahwa keberadaan para pengajar agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moral masyarakat.
“Pemerintah daerah ingin memberikan penghargaan kepada para guru ngaji, modin, dan guru agama nonmuslim yang selama ini menjadi penggerak pendidikan keagamaan di tengah masyarakat,” ujar Nurul Hafid.
Pada tahap penyaluran kali ini, insentif diberikan kepada 1.955 penerima yang berasal dari tujuh kecamatan di Kabupaten Jember.
Setiap penerima memperoleh bantuan sebesar Rp1.500.000 yang disalurkan melalui balai desa atau kelurahan setempat.
Nurul Hafid memastikan proses pencairan dilakukan secara terbuka dan tanpa potongan.
Pemerintah daerah juga menegaskan bahwa dana yang disalurkan harus diterima utuh oleh para penerima manfaat.
“Tidak ada potongan dalam proses pencairan. Dana yang belum diambil juga tetap utuh tanpa pengurangan,” tegasnya.
Untuk mempercepat distribusi, penyaluran dilakukan secara bertahap dengan melibatkan sekitar 30 desa setiap hari. Pola tersebut diterapkan agar seluruh penerima dapat menerima insentif sebelum Hari Raya Idul Fitri.
“Karena waktu menuju Lebaran cukup singkat, penyaluran dilakukan secara maraton agar bantuan segera diterima para penerima,” tambahnya.
Salah satu penerima insentif di Balai Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, Yuliana Ika, mengaku bersyukur atas perhatian pemerintah daerah kepada para guru ngaji. Ia menyebut proses pencairan berlangsung mudah dan cepat.
“Alhamdulillah menerima insentif guru ngaji. Prosesnya juga cepat, cukup membawa KTP dan buku tabungan untuk dicocokkan,” katanya.
Yuliana telah hampir sepuluh tahun mengajar mengaji bagi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Ia membimbing para santri di sebuah mushola sederhana yang berdiri di samping rumahnya. Mushola tersebut dibangun secara swadaya oleh keluarga dan warga sekitar di atas lahan kosong.
Menurutnya, tempat sederhana itu menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mempelajari bacaan Al-Qur’an dan dasar-dasar pendidikan agama.
Selain mengajar mengaji, Yuliana juga aktif di dunia pendidikan formal. Ia mendirikan sebuah bimbingan belajar sekaligus mengajar di lembaga pendidikan anak usia dini Raudhatul Athfal (RA).
Ia mengaku telah beberapa kali menerima bantuan serupa dari pemerintah daerah.
Namun, menurutnya nilai insentif tahun ini terasa lebih besar dan sangat membantu, terutama untuk memenuhi kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Sebagian dana tersebut rencananya juga akan digunakan untuk memperbaiki fasilitas mushola tempat ia mengajar yang saat ini sedang dalam proses renovasi.
Yuliana berharap program insentif ini ke depan dapat menjangkau lebih banyak guru ngaji yang selama ini belum terdata sebagai penerima.
“Harapannya ke depan bisa lebih merata lagi, sehingga guru ngaji yang belum terdata juga bisa merasakan perhatian dari pemerintah,” ujarnya.
Program penyaluran insentif ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Jember dalam memberikan dukungan kepada para tokoh pendidikan keagamaan.
Di tengah keterbatasan fasilitas yang sering dibangun secara swadaya, para guru ngaji tetap berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan bagi generasi muda.
(Wiwik)