Cybernewsindonesia.id | Banyuwangi — Peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei di Banyuwangi diwarnai dengan aksi mimbar bebas yang digelar oleh mahasiswa dan elemen masyarakat di depan kantor bupati.
Dalam aksi tersebut, Ferdi Fernando Putra tampil sebagai orator utama yang menyuarakan berbagai tuntutan terkait hak dan kesejahteraan buruh.
Dengan penuh semangat, Ferdi menyampaikan bahwa momentum May Day seharusnya menjadi pengingat bagi pemerintah untuk lebih serius memperhatikan kondisi pekerja.
Ia menyoroti masih adanya ketimpangan dalam perlindungan tenaga kerja, upah yang belum sepenuhnya layak, serta kebijakan yang dinilai belum berpihak pada kepentingan buruh.
“May Day bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum perjuangan. Hak buruh harus dijamin, bukan hanya dijanjikan,” tegasnya dalam orasi di hadapan massa aksi.
Aksi mimbar bebas tersebut diikuti oleh puluhan mahasiswa yang membawa poster dan spanduk berisi kritik serta aspirasi.
Mereka menyuarakan pentingnya kebijakan yang adil, transparan, dan berpihak pada masyarakat kecil, khususnya para pekerja di sektor formal maupun informal.
Ferdi juga menekankan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral sebagai agen perubahan untuk terus mengawal kebijakan publik. Ia mengajak seluruh peserta aksi agar tetap menyampaikan aspirasi secara damai, intelektual, dan konstruktif.
Selama aksi berlangsung, situasi tetap kondusif dengan pengawasan dari aparat keamanan yang berjaga di sekitar lokasi. Tidak terjadi bentrokan, dan massa membubarkan diri secara tertib setelah rangkaian orasi selesai.
Melalui aksi ini, mahasiswa di Banyuwangi menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan keadilan sosial serta menjadi jembatan antara suara rakyat dan pengambil kebijakan.
Momentum May Day pun kembali menjadi ruang refleksi atas pentingnya keberpihakan terhadap kaum buruh.
(Alex)