Cybernewsindonesia.id |
SINGARAJA - Sepanjang tahun 2024, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Buleleng tercatat mencapai 1.892 kasus.
Jumlah ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 829 kasus pada 2023 dan 875 kasus pada 2022.
Kasus tertinggi terjadi pada bulan April 2024 dengan 348 kasus, namun jumlah ini perlahan menurun hingga bulan Desember hanya tercatat 171 kasus.
Lima desa dengan kasus tertinggi adalah Desa Pejarakan (58 kasus), Desa Patas (47 kasus), Desa Ambengan (46 kasus), serta Desa Les dan Anturan yang masing-masing mencatat 45 kasus.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Nyoman Budiastawan, SKM, MAP, menyampaikan bahwa meskipun ada peningkatan jumlah kasus DBD sepanjang tahun, peningkatan dari bulan ke bulan tidak terlalu signifikan.
Ia juga menyoroti pengaruh cuaca ekstrem terhadap perkembangan nyamuk pembawa virus DBD.
“Memang kasus DBD ada peningkatan tetapi tidak terlalu signifikan dari bulan-bulan sebelumnya.
Dari november hingga desember ada peningkatan cuma kurang lebih 50 kasus dan ini kita maklumi bersama bahwa kondisi cuaca ekstrem ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan DBD di Buleleng,” ujarnya, Sabtu (3/1/2025).
Sebagai langkah pencegahan, menurutnya pemerintah juga telah melakukan berbagai upaya, seperti melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara massal, melakukan fogging di wilayah dengan laporan kasus DBD hingga mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kepala desa untuk meningkatkan kewaspadaan.
Daftar Desa dengan kasus DBD terbanyak sepanjang tahun 2024 (Infografis: Dinkes Buleleng)
“Kita sudah lakukan upaya-upaya pencegahan melalui penyemprotan fogging ULV untuk wilayah perkotaan kita rutin lakukan dan fogging fokus apabila ada kasus DBD di masyarakat.
Kita juga sudah instruksikan kepada seluruh Puskesmas yang memegang program demam berdarah untuk terus memantau,” ucapnya.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, menerapkan 3M Plus serta melibatkan anggota keluarga sebagai pemantau jentik di masing-masing rumah.
Hal ini bertujuan agar perkembangan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus DBD, dapat dipantau sejak dini.
Budiastawan menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat telah berhasil meredam perkembangan kasus DBD.
Meski sempat meningkat pada pertengahan 2024, namun berkat upaya bersama kasus tersebut berhasil terkendali hingga akhir tahun.
Ia juga menambahkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pencegahan DBD perlahan meningkat, meski masih perlu terus didorong.
Dengan cuaca ekstrem yang masih berlangsung, ia berharap partisipasi masyarakat sangat penting untuk menekan angka kasus DBD di Kabupaten Buleleng.
“Mudah-mudahan ditahun ini di cuaca ekstrem ini kita bisa redam kasus demam berdarah di Buleleng,” katanya mengakhiri.
(David)